Itulah kata yang tepat disaat kita menyaksikan persidangan terkait polemik ijazah milik mantan orang nomor satu di Republik ini.
Didepan persidangan, kita disajikan sebuah pertunjukan yang mengharukan,menjengkelkan bahkan membuat mata kita sedikit terbuka untuk menyaksikan sesuatu yang mungkin tidak seharusnya kita saksikan.
Saling adu pendapat antara yang menyangkakan dan yang disangkakan.
Masyarakat Indonesia menyaksikan dengan penuh cermat saat persidangan yang menghadirkan Joko Widodo harus duduk dibangku persidangan.
Kehadiran Orang yang pernah memimpin Republik ini selama dua periode hanya untuk membuktikan, bahwa ijazah yang dimilikinya adalah asli.
Sayangnya, walaupun ijazah yang dimilikinya telah diperlihatkan, tidak membuat sang penyudut atau pembuat kegaduhan mengakui, bahwa ijazah tersebut asli.
Dari peristiwa persidangan tersebut, secara kasat mata kita dapat melihat, siapa yang berilmu dan beradab, dan siapa yang berilmu tapi tidak memiliki adab.
Terlepas dari suka atau tidak selama Jokowidodo memimpin Negeri ini, tetapi tetap harus kita akui, bahwa Joko Widodo adalah sosok yang pernah berjasa membangun Negeri.
Kekurangan selama memimpin pasti ada pada sosok Joko Widodo, namun jangan menutup mata dan juga hati, ada beberapa keberhasilan yang telah beliau lakukan.
Dalam persidangan, kita harus akui, adab yang dimiliki Joko Widodo begitu mempesona, dengan tutur kata yang lemah lembut dan gestur tubuh yang memperlihatkan kesopanan sebagai ciri Bangsa Indonesia, membuat kita terenyuh dan menyayangkan terjadinya peristiwa seperti yang terlihat dimasa persidangan.
Mantan Orang nomor satu ini sampai harus mengambil berkas yang terserak dibawah dan berjalan menuju Hakim sekaligus memperlihatkan ijazah miliknya.
Jika kita membuka mata dan hati dengan bijak, seharusnya hal tersebut tidak terjadi.
Keaslian Ijazah yang dimikinya telah dibenarkan oleh pihak kampus dimana dirinya pernah menimba ilmu, yaitu Universitas Gajah Mada.bahkan demi memenuhi keinginan segelintir orang yang mengatasnamakan Rakyat, Ijazah tersebut diperiksa oleh pihak kepolisian melalui uji forensik, yang lagi-lagi menunjuka bahwa ijazah tersebut asli.
Sayangnya hal tersebut tidak membuat segelintir orang yang konon memiliki ilmu dan keahlian sebagai peneliti, mengakui bahwa ijazah tersebut Asli.
Para peneliti tersebut menuntut agar persoalan ijazah masuk di persidangan untuk disaksikan oleh seluruh Rakyat Indonesia.
Namun kembali pada pernyataan awal, jika Ilmu tidak dibarengi dengan adab, maka kebenaran tetap akan ditolak dengan berbagai dalih.
Atas peristiwa yang menyita banyak perhatian tersebut, kita menyimpulkan, bahwa sebagai Manusia yang memiliki ilmu atau kelebihan, akan bermanfaat jika dibarengi dengan adab, karena jika hanya memiliki Ilmu dan merasa paling benar, maka tidak ubahnya dengan Iblis, berapa hebat dan berilmunya Iblis, hanya karena tidak memiliki adab, maka si gagah dan pintar itu harus menjadi mahluk yang terkutuk.
Terlepas dari keilmuan atau kepandaian yang dimiliki, kita harus bercermin dan mawas diri, jika orang tua kita yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, harus diperlakukan seperti halnya Joko Widodo saat duduk dibangku persidangan dan ada kesan dipermalukan, bagaimana perasaan kita.
Penulis hanya berharap, sebagai Anak Bangsa, jangan sampai membenci seseorang secara berlebih, jangan lupakan sejarah dan jangan lupakan sesuatu yang bernama adab.
Jika kita mengedepankan adab, Niscaya kebenaran akan terlihat secara pasti, walaupun diterjang dengan berbagai badai dan mereka yang hanya memiliki keilmuan yang luar biasa.
Inti dari semua urutan kata diatas adalah, Allah membenci sesuatu yang berlebihan.
Maka jika membenci seseorang janganlah berlebihan, karena kebenaran sejatinya hanya milik Allah. Wallahua'alam